BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Gerakan
Pramuka sebagai suatu wadah pendidikan nonformal di lingkungan masyarakat,
wajib mengarahkan dan mengatur semua tindakan dan langkahnya. Gerakan Pramuka
menyelenggarakan upacara sebagai alat pendidikan dan dilaksanakan dengan
khidmat, teratur dan tertib, meliputi upacara umum, pembukaan dan penutupan
latihan, pelantikan, dan upacara pemberian penghargaan. Sebelum menjadi anggota
pramuka, calon anggota perlu mengikuti serangkaian upacara pelantikan.
Pengertian dari Upacara adalah
serangkaian perbuatan yang ditata dalam suatu ketentuan yang wajib dilaksanakan
dengan khidmat dan tertib, sehingga merupakan kegiatan teratur untuk
menciptakan kebiasaan yang mengarah kepada budi pekerti luhur. Kemudian upacara
di dalam pembinaan kepramukaan merupakan alat pendidikan berkaitan erat dengan
proses perkembangan jiwa peserta (peserta didik) untuk menumbuhkan rasa
kesadaran pada peserta tersebut. Seseorang akan merasa bangga dan akan terasa
lebih bermakna apabila dalam mengikuti upacara ada acara yang
menyenangkan,terutama bagi dirinya atau kelompoknya, misalnya: pemberian tanda
penghargaan, pelantikan, peresmian kenaikan pangkat, dan mendapat pengarahan
dari pembina upacara yang mengugah semangat peserta upacara. Oleh karena itu,
setiap pembina pramuka berkewajiban mengusahakan agar upacara menjadi kegiatan
menarik dan mengandung pendidikan, dengan jalan membuat variasi yang tidak
menyimpang dari petunjuk yang ada. Disinilah proses pendidikan melalui kegiatan
upacara dalam Gerakan Pramuka berlangsung.
1.2
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1) Apa
pengertian upacara?
2) Bagaimana
pelaksanaan upacara dalam Gerakan Pramuka?
3) Apa
makna dari pertemuan, pelantikan, dan api unggun dalam gerakan pramuka?
1.3. Tujuan
Berdasarkan tumusan masalah diatas
adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk
mengetahui pengertian upacara.
2) Untuk
mengetahui pelaksanaan upacara dalam gerakan upacara.
3) Untuk mengetahui makna dari
pertemuan, pelantikan, dan api unggun dalam gerakan pramuka.
1.4. Manfaat
Berdasarkan
tujuan di atas, adapun manfaat dalam pembahasan makalah ini sebagai berikut.
1) Bagi
mahasiswa
Dengan adanya makalah
ini, mahasiswa dapat menambah wawasan dan
pengetahuannya mengenai pengertian upacara, pelakasanaan upacara dalam
gerakan pramuka, dan makna dari pertemuan, pelantikan, dan api unggun.
2)
Bagi Masyarakat
Dengan adanya makalah
ini, masyarakat akan lebih memahami dan mengetahui pengertian upacara,
pelaksanaan upacara dalam gerakan pramuka, dan makna dari pertemuan, pelantikan
dan api unggun.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian upacara
Upacara adalah serangkaian tindakan
atau perbuatan yang ditata dalam suatu ketentuan peraturan yang dilakukan atau
diadakan sehubungan dengan peristiwa penting seperti upacara adat, pelantikan,
pemberian tanda penghargaan, peringatan, dan upacara lainnya serta dilaksanakan
dengan khidmat dan tertib, sehingga merupakan kegiatan teratur untuk
menciptakan kebiasaan yang mengarah kepada budi pekerti luhur.
Tujuan dan sasaran upacara dalam
Gerakan Pramuka adalah membentuk sikap disiplin, menghargai suatu proses
berkaitan dengan sejarah, tradisi, perjuangan dan keberhasilan yang dicapai
agar peserta didik:
1) Memiliki rasa cinta kepada tanah air, bangsa, dan
negara.
2) Memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin pribadi.
3) Selalu tertib dalam kehidupan sehari-hari.
4) Memiliki jiwa gotong royong dan percaya pada orang
lain.
5) Dapat memimpin dan dipimpin.
6) Dapat melaksanakan upacara dengan khidmat dan
tertib.
7)
Meningkatkan ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.2. Pelaksanaan upacara dalam
kegiatan pramuka
2.2.1. Macam-Macam Upacara dalam
Gerakan Pramuka
1) Upacara Umum
Upacara umum
dimaksudkan sebagai upacara penaikan dan penurunan Sang Merah Putih secara
berkala pada upacara peringatan HUT Pramuka, HUT RI, atau secara berkala pada
setiap hari Senin dan setiap tanggal 17.
2) Upacara
Pembukaan dan Penutupan Latihan
Upacara
Pembukaan Latihan dan Upacara Penutupan Latihan yaitu upacara yang dilakukan
dalam rangka melaksanakan usaha memulai dan mengakhiri suatu pertemuan di
lingkungan Gerakan Pramuka. Bentuk barisan pada upacara pembukaan dan penutupan
latihan disesuaikan dengan golongan Satuan yaitu Lingkaran untuk Perindukan
Siaga, Angkare untuk Pasukan Penggalang, Bersaf satu untuk Ambalan Penegak dan
Racana Pandega.
3) Upacara
Pelantikan, meliputi upacara:
I. Peresmian/Pelantikan anggota
Masing-masing golongan memiliki upacara peresmian
anggota.
a.
Upacara Pelantikan calon siaga
menjadi siaga mula dilaksanakan sebagai berikut:
a)
Calon anggota siaga yang akan
dilantik diantar oleh pemimpin Barungnya.
b)
Para siaga yang sudah dilantik maju
satu langkah.
c)
Tanya jawab tentang Syarat Kecakapan
Umum Siaga Mula antara Pembina Siaga dan Calon Siaga.
d)
Ucapan janji Dwisatya dituntun
pembina dengan memegang Sang Merah Putih di tiang bendera bersama perindukan
yang telah dilantik memberi hormat.
e)
Penyematan tanda-tanda diiringi
nasehat pembina.
f)
Penghormatan kepada Siaga yang baru
dilantik dilanjutkan pemberian selamat, kemudian kembali ke tempat
masing-masing.
g)
Pembina Siaga mengucapkan doa yang
diikuti oleh anggota perindukan.
h)
Pemimpin barung menjemput anggotanya
yang telah dilantik.
i)
Barisan dibubarkan.
b.
Upacara Pelantikan Calon Penggalang
menjadi Pramuka Penggalang dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Calon Penggalang (telah
menyelesaikan SKU Penggalang Ramu) diantar oleh Pemimpin Regunya kehadapan
pembina Penggalang kemudian pengantar kembali ke regunya.
b)
Penggalang yang sudah dilantik maju
satu langkah.
c)
Tanya jawab tentang Syarat Kecakapan
Khusus/SKU yang telah diselesaikan.
d)
Calon yang akan dilantik berdoa
diikuti oleh anggota pasukan dipimpin oleh Pembina Penggalang.
e)
Sang Merah Putih dibawa petugas
kesebelah kanan depan dari Pembina. Waktu Sang Merah Putih masuk ke tempat
upacara anggota pasukan menghormat dipimpin oleh Pratama.
f)
Calon secara sukarela mengucapkan
janji Trisatya dengan tangan kanannya memegang ujung Sang Merah Putih
ditempelkan di dada kiri tepat dengan jantungnya. Pada waktu ucapan janji
anggota pasukan menghormat dipimpin oleh Pratama.
g)
Penyematan tanda-tanda disertai
nasehat dari Pembina Penggalang.
h)
Pratama maju satu langkah lalu
memimpin penghormatan kepada Penggalang yang baru dilantik, diteruskan
pemberian ucapan selamat dari anggota pasukan.
i)
Pemimpin regu menjemput anggotanya
yang baru dilantik.
j)
Pembina menyerahkan pasukan kepada
Pratama untuk meneruskan acara latihan.
k)
Pratama memimpin penghormatan
pasukan kepada Pembina Penggalang, kemudian membubarkan barisan.
c.
Upacara Pelantikan Calon Penegak
menjadi Penegak Bantara dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Upacara Pelantikan Calon Penegak
menjadi Penegak Bantara, tidak boleh dihadiri Calon Penegak lainnya.
b)
Sangga Kerja menyiapkan perlengkapan
upacara.
c)
Calon Penegak yang akan dilantik
oleh pendamping kanan dan pendamping kiri ke hadapan Pembina Penegak.
d)
Pembina minta penjelasan kepada
pendamping kanan dan pendamping kiri mengenai watak dan kecakapan calon.
e)
Pendamping kanan dan pendamping kiri
kembali ke sangganya.
f)
Sang Merah Putih dibawa petugas ke
sebelah kanan depan Pembina, anggota Ambalan menghormat dipimpin oleh Petugas.
g)
Tanya Jawab tentang Syarat Kecakapan
Umum antara Pembina dan calon.
h)
Pembina memimpin doa sesuai dengan
agama dan kepercayaan masing-masing.
i)
Penyematan tanda-tanda disertai
pesan seperlunya.
j)
Ucapan janji Trisatya dituntun oleh
Pembina Penegak, dengan jalan memegang ujung Sang Merah Putih dengan tangan
kanan yang ditempelkan di dada kiri tepat dengan jantungnya. Kemudian disusul
dengan penyematan Tanda Penegak Bantara oleh calon Penegak sendiri.
k)
Penghormatan ambalan kepada Penegak
Bantara yang baru dilantik.
l)
Ucapan selamat dari anggota ambalan.
m)
Pendamping kanan dan pendamping kiri
menjemput Penegak Bantara yang selesai dilantik untuk kembali ke sangganya.
II. Kenaikan Tingkat
Masing-masing golongan memiliki
upacara Kenaikan tingkat.
a.
Upacara Kenaikan Tingkat dari Siaga
Mula ke Siaga Bantu atau dari Siaga Bantu ke Siaga Tata dilaksanakan sebagai
berikut.
a)
Siaga yang akan naik tingkat
mengambil tempat berhadapan dengan Pembina Siaga.
b)
Tanya jawab tentang Syarat Kecakapan
Umum yang telah dipenuhi.
c)
Pada ucapan janji Dwisatya dengan
cara seperti pada pelantikan anggota yang telah dilantik menghormat.
d)
Pelepasan Tanda Kecakapan Umum yang
lama dan Penyematan Tanda Kecakapan Umum yang baru, diiringi nasehat Pembina.
e)
Penghormatan kepada Siaga yang baru
naik tingkat dilanjutkan pemberian selamat, dipimpin oleh Pemimpin Barung Utama
(sulung), kemudian kembali ke tempat masing-masing.
f)
Siaga yang naik tingkat kembali ke
Barungnya.
g)
Pembina Siaga mengucapkan doa yang
diikuti anggota perindukan.
h)
Barisan dibubarkan diteruskan dengan
kegiatan acara latihan.
b.
Upacara Kenaikan Tingkat dari
Penggalang Ramu ke Penggalang Rakit atau dari Penggalang Rakit ke Penggalang
Terap dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Penggalang yang akan naik tingkat
mengambil tempat berhadapan dengan Pembina Penggalang.
b)
Penggalang Rakit dan atau Penggalang
Terap maju satu langkah.
c)
Tanya jawab tentang Syarat Kecakapan
Umum yang telah diselesaikan, antara Pembina dan Penggalang yang akan naik
tingkat.
d)
Petugas bendera membawa Sang Merah
Putih ke sebelah kanan depan dari Pembina Penggalang. Waktu Sang Merah Putih
memasuki tempat upacara anggota pasukan menghormat dipimpin oleh Petugas.
e)
Penggalang yang akan naik tingkat
mengulang ucapan janji Trisatya dituntun Pembina Penggalang dengan tangan
kanannya memegang ujung Sang Merah Putih ditempelkan di dada kiri tepat dengan
jantungnya.
f)
Pada waktu Trisatya diucapkan,
anggota pasukan memberi hormat dipimpin oleh Petugas.
g)
Pelepasan Tanda Kecakapan Umum lama
dan penyematan Tanda Kecakapan Umum yang baru, diiringi nasehat Pembina.
h)
Penghormatan pasukan kepada
Penggalang yang baru naik tingkat dipimpin Petugas, dilanjutkan pemberian
selamat dari anggota pasukan, kemudian kembali ke tempat masing-masing termasuk
Penggalang yang naik tingkat.
i)
Pembacaan Dasa Darma.
j)
Pembina Upacara (Pembina Penggalang)
memimpin doa menurut agama dan kepercayaan masing-masing.
k)
Pasukan diserahkan kepada pratama
untuk melanjutkan acara.
l)
Petugas memimpin penghormatan
pasukan kepada Pembina Upacara (Pembina Penggalang).
m)
Pembina Upacara mengucapkan
terimakasih kepada para pembantunya terus siap melaksanakan latihan.
n)
Petugas membubarkan barisan.
c.
Upacara Kenaikan Tingkat dari
Penegak Bantara menjadi Penegak Laksana dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Pembina penegak mengumpulkan anggota
ambalan.
b)
Penegak Bantara yang akan naik
tingkat diantar oleh pendampingnya ke hadapan Pembina Penegak.
c)
Pembina minta pernyataan pendamping
mengenai perkembangan watak dan kecakapan yang bersangkutan.
d)
Para pendamping kembali ke tempat.
e)
Tanya jawab tentang Syarat Kecakapan
Umum yang telah diselesaikan antara Pembina dan Penegak Bantara yang akan naik
tingkat.
f)
Sang Merah Putih dibawa oleh petugas
ke sebelah kanan depan Pembina Penegak. Waktu Sang Merah Putih memasuki tempat
upacara anggota ambalan menghormat dipimpin oleh petugas.
g)
Pembina memberikan bendera Sang
Merah Putih kepada Penegak yang bersangkutan.
h)
Pembina melepas Tanda Penegak
Bantara disertai pesan seluruhnya.
i)
Tanda Penegak Laksana dipasang
sendiri oleh Penegak yang bersangkutan.
j)
Penegak Bantara yang naik tingkat
menggulang janji Trisatya dituntun pembina memegang ujung Sang Merah Putih
dengan tangan kanannya ditempelkan di dada kiri tepat pada jantungnya.
k)
Pembina memimpin doa menurut agama
dan keprcayaan masing-masing.
l)
Ucapan selamat dari anggota ambalan.
m)
Pembina menyerahkan ambalan kepada
petugas untuk meneruskan acara.
III. Pindah
Golongan
Masing-masing
golongan memiliki upacara Pindah Golongan.
a.
Upacara Pindah golongan dari Pramuka
Siaga ke Pramuka Penggalang dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Di Perindukan Siaga, dalam rangkaian
Upacara Pembukaan Latihan, Pramuka Siaga yang akan pindah golongan mengambil
tempat berhadapan dengan Pembina.
b)
Penjelasan Pembina bahwa Pramuka
Siaga pindah ke golongan Pramuka Penggalang bukan karena kecakapannya tetapi
karena usianya.
c)
Pesan Pembina kepada anggota
perindukan yang akan pindah.
d)
Pramuka Siaga yang akan pindah minta
diri kepada teman seperindukan.
e)
Pembina mengantar Siaga yang akan
pindah ke Pasukan Penggalang yang sudah disiapkan sebelumnya.
f)
Penyerahan Siaga dari Pembina Siaga
kepada Pembina Penggalang.
g)
Penerimaan anggota baru oleh Pembina
Penggalang, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di pasukan tersebut.
h)
Pembina siaga kembali ke
perindukannya untuk meneruskan acara latihan.
i)
Anggota baru diperkenalkan kepada
semua anggota pasukan, kemudian diserahkan kepada regu yang sudah siap menerimanya.
j)
Ucapan selamat datang dari semua
anggota pasukan dilanjutkan dengan acara latihan.
b.
Upacara pindah golongan dari Pramuka
Penggalang ke Pramuka Penegak dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Dilaksanakan dalam rangkaian Upacara
Pembukaan Latihan Pasukan Penggalang dan Upacara Pembukaan Latihan Ambalan
Penegak.
b)
Penggalang yang akan pindah golongan
mengambil tempat berhadapan dengan pembina Upacara (Pembina Penggalang).
c)
Nasehat dan penjelasan Pembina
Upacara (Pembina Penggalang) bahwa kepindahannya bukan karena kecakapannya,
melainkan karena usia dan perkembangan jiwanya.
d)
Penggalang yang akan pindah golongan
minta diri kepada anggota pasukannya.
e)
Pembina Upacara (pembina Penggalang)
mengantar Penggalang yang bersangkutan ke Ambalan Penegak.
f)
Serah terima anggota antara Pembina
Penggalang dan Pembina Penegak.
g)
Pembina Penggalang kembali ke
pasukan untuk melanjutkan acara latihannya.
h)
Acara penerimaan anggota di ambalan
disesuaikan dengan adat yang berlaku di ambalan itu.
i)
Anggota baru diserahkan kepada
sangga yang akan menerimanya.
j)
Pembina Penegak menyerahkan kembali
ambalan kepada Petugas untuk meneruskan acara latihannya.
c.
Upacara Pindah Golongan dari Pramuka
Penegak ke Racana Pendega dilaksanakan sebagai berikut.
a)
Pembina Penegak meggumpulkan anggota
ambalan dalam bentuk barisan bersaf.
b)
Penegak yang akan pindah golongan
dipanggil ke hadapan Pembina Penegak.
c)
Penjelasan Pembina bahwa
kepindahannya bukan karena kecakapannya, melainkan karena usianya.
d)
Penegak yang akan pindah minta diri
kepada anggota ambalan.
e)
Pembina meneyerahkan penegak yang
bersangkutan kepada Pembina Racana Pendega.
f)
Pembina Racana Pendega menerimannya
sesuai dengan adat yang berlaku.
4) Upacara
Penyematan Tanda Kecakapan Khusus, Tanda Pramuka Garuda, dan Tanda Penghargaan.
2.2.2 Perlengkapan Upacara dalam Gerakan Pramuka:
1) Satuan
pramuka siaga
a) Bendera Merah Putih
b) 2 standar bendera
c) Teks Pancasila
d) Teks Dwi Darma
b) 2 standar bendera
c) Teks Pancasila
d) Teks Dwi Darma
2) Satuan
pramuka penggalang dan Penegak
a) Bendera Merah Putih dan tali
b) Tiang bendera (3 tongkat yang disambung)
c) Teks Pancasila
d) Teks Dasa Darma atau Sandi Ambalan
a) Bendera Merah Putih dan tali
b) Tiang bendera (3 tongkat yang disambung)
c) Teks Pancasila
d) Teks Dasa Darma atau Sandi Ambalan
2.2.3. Tempat dan Pengaturan Upacara dalam Gerakan Pramuka
1)
Tempat upacara dapat dilaksanakan:
a.
Upacara dapat dilaksanakan di ruang
terbuka (lapangan)
b.
Upacara dapat dilaksanakan di ruang tertutup
2)
Pengaturan upacara dalam gerakan
pramuka. Agar tercipta suasana upacara yang tertib, teratur, dan khidmat,
satuan-satuan di Gugus Depan (GUDEP) sebaiknya dibagi sesuai dengan
golongannya, yaitu.
a.
Siaga dibagi menjadi
perindukan-perindukan
b.
Pengalang-pengalang dibagi menjadi
pasukan-pasukan
c.
Untuk Penegak/Pendega dibagi menjadi
Ambalan-ambalan
3)
Hal-hal yang sering terjadi pada
saat upacara diselenggarakan seperti:
a.
Jika pada saat penaikan bendera
merah putih talinya putus, maka petugas bendera tetap ditempat dengan tetap
merentangkan bendera sampai upacar selesai diperbaiki lagi dan bendera tetap
dikibarkan.
b.
Jika tiang bendera roboh saat
bendera dikibarkan, maka petugas tetap pegang bendera, direntangkan ditempat
sampai upacara selesai. Perbaikan setelah upacara selesai.
c.
Jika bendera saat dikibarkan
terbalik, maka petugas segera memperbaiki dan dilanjutkan mengibarkan sampai
selesai upacara.
d.
Jika petugas pembaca Pancasila atau
Darma (Dwi Darma atau Dasa Darma) belum diuji mentalnya untuk mengucapkan, maka
selanjutnya tidak mengucapkan tetapi membaca.
2.3 Makna Pertemuan, Pelantikan, Api Unggun dalam
Gerakan Pramuka
2.3.1 Makna Pertemuan
Pertemuan dalam pramuka yaitu disebut dengan Raimuna. Raimuna
adalah pertemuan Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega dalam bentuk perkemahan
besar di Indonesia yang diselenggarakan oleh kwartir Gerakan Pramuka. Raimuna
diselenggarakan mulai dari tingkat Kwartir Ranting (kecamatan) hingga tingkat
nasional. Raimuna merupakan dua buah kata yaitu Rai dan Muna. Rai yang artinya
Pertemuan, Muna artinya Pemimpin/Kepala suku. Sehingga Raimuna dapat diartikan
pertemuan para pemimpin/kepala suku. Makna tersebut dapat mewakili makna
pertemuan besar Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega, karena Pramuka Penegak dan
Pendega merupakan pemimpin dikelompoknya masing-masing dan calon pemimpin
bangsa.
1)
Tingakatan Raimuna
a. Raimuna
di tingkat Kwartir Ranting disebut Raimuna Ranting atau bisa disingkat dengan Rairan. Raimuna penting
diselenggarakan setiap 1 tahun sekali. Peserta dari Raimuna Ranting adalah
Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega perwakilan dari masing-masing gugus depan
(Ambalan Penegak atau Racana) dalam wilayah Kwartir Ranting (kecamatan)
tersebut.
b. Raimuna
di tingkat Kwartir cabang (kabupaten atau kota) disebut Raimuna Cabang atau biasa disingkat dengan
Raicab. Raimuna Cabang diselenggarakan setiap 2 tahun sekali. Raimuna cabang
diikuti oleh Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega perwakilan dari masing-masing
Kwartir Ranting yang terdapat dalam wilayah Kwartir cabang (kota) tersebut.
c. Raimuna di tingkat Kwartir Daerah
(provinsi) disebut Raimuna Daerah atau biasa disingkat dengan Raida. Raimuna
Daerah diselenggarakan setiap 3 tahun sekali. Raimuna daerah diikuti oleh
Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega perwakilan dari masing-masing Kwartir
Cabang yang terdapat dalam wilayah Kwartir Daerah (provinsi) tersebut.
d. Raimuna
di tingkat Kwartir Nasionl disebut Raimuna Nasional atau biasa disingkat dengan
Rainas. Raimuna Nasional diadakan setiap 4 tahun sekali. Raimuna Nasional
diikuti oleh Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega perwakilan dari masing-masing
Kwartir Daerah (provinsi). Perwakilan masing-masing provinsi ini biasanya
diambilkan dari masing-masing Kwartir Daerah (kabupaten).
2) Kegiatan
dalam Raimuna
Raimuna adalah kegiatan pertemuan
Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega yang bersumber pada nilai-nilai:
a.
Filsafat Pancasila dan agama
b.
Jiwa perjuangan 1945
c.
Persahabatan dan kekeluargaan
d.
Perkembangan ekonomi, sosial, dan
teknologi
e.
Seni budaya, kesehatan,
kesejahteraan, dan kelestarian lingkungan hidup
f.
Keamanan dan ketertiban masyarakat
g.
Adat-istiadat dan tata susila
h.
Kepemimpinan dan kewirausahaan.
Kegiatan
dalam Raimuna itu perlu juga disesuaikan dengan aspirasi pemuda-pemudi
Indonesia pada umumnya, minat, kebutuhan, dan kemampuan para Pramuka Penegak
dan Pramuka Pendega, serta kepentingan dan kebutuhan masyarakat setempat. Maka,
dalam Raimuna supaya diadakan acara kegiatan bakti kepada masyarakat yang
sifatnya tidak lebih puas daripada kegiatan Perkemahan Wirakarya. Kegiatan-kegiatan
dalam Raimuna dititik beratkan pada peningkatan kemantapan mental, fisik,
pengetahuan, keterampilan Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega.
2.3.2. Makna
Pelantikan
Upacara pelantikan merupakan serangkaian upacara dalam
rangka memberikan pengakuan dan pengesahan terhadap seorang pramuka atas
prestasi yang dicapainya. Upacara pelantikan memiliki tujuan yaitu agar para
pramuka yang dilantik mendapat kesan yang mendalam dan membuka hatinya untuk
dapat menerima pengaruh pembinaanya dalam upaya membentuk manusia
berkepribadian, berbudi pekerti luhur, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
peduli pada tanah air, bangsa, masyarakat, alam lingkungan, serta peduli pada
dirinya sendiri dengan berpedoman pada satya dan darma pramuka. Langkah-langkah
proses pelantikan setelah menyelesaikan tugas dan kewajiban dengan baik, para
pramuka masih merasa perlu berusaha agar prestasinya tersebut mendapat
pengakuan dan pengesahan dari lingkungannya, dengan melewati upacara
pelantikan.
1)
Hal-hal yang dilakukan dalam proses
pelantikan sebagai berikut.
a.
Persiapan
a)
Persiapan mental.
Yang dimaksud persiapan mental ialah mempersiapkan peserta
didik agar dengan sukarela mau mengucapkan janji/satya pramuka, serta dengan
sepenuh hati rela mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
b)
Persiapan fisik.
Yang dimaksud persiapan fisik disini ialah bagi
pramuka yang dilantik memerlukan persiapan fisik yang prima karena dimungkinkan
ia akan menunggu dan berdiri beberapa lama, sebagai bagian dari pendidikan
kesabaran.
c)
Persiapan peralatan ialah bendera
merah putih, standar bendera, tanda-tanda pelantikan dan alat-alat penunjang
lainnya.
Upacara
pelantikan yang dilaksanakan dengan tertib khidmat akan dapat membuka hati yang
bersangkutan dan pada saat itu pembina dapat memanfaatkan peristiwa tersebut
sebagai media untuk mendidik ketahanan spiritual, fisik, intelektual, emosional
dan sosial.
2.3.3. Makna Api Unggun
Api unggun adalah api di luar ruang yang didapat dari
sengaja menyalakan kayu bakar, potongan kayu, atau kumpulan dahan, ranting, jerami,
atau daun-daun kering. Pramuka, pecinta alama, atau peminat kegiatan alam bebas
sering membuat api unggun sewaktu berkemah atau melakukan kegiatan dialam
terbuka. Api unggun dinyalakan dengan maksud untuk menjaga diri dari binatang
buas, menghangatkan diri, dll. Sewaktu berkemah orang sering berkumpul di sekitar
api unggun untuk menyanyi dan menari. Suasana rileks dan riang gembira
merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran nilai dan sikap dalam membentuk
karakter dan kepribadian siswa seutuhnya. Acara bersifat rekreatif bermanfaat
dalam mengembalikan kesegaran siswa dari kepenatan aktivitas belajar
sehari-hari. Api unggun mengandung makna dan pesan moral yang luas. Acara ini
memiliki aura sakral, wibawa, dan penuh rasa khidmat terkait acara pelantikan
anggota baru pramuka. Kegiatan api unggun pun menjadi momen yang menyenangkan
yang sering ditunggu-tunggu oleh para anggota pramuka. Sesuai tradisi, api
unggun sebagai mata acara penutup kegiatan perkemahan menampilkan berbagai
suguhan hiburan bersifat atraktif, kreatif, dan rekreatif. Semua dengan
membentuk lingkaran bisa dengan santai melepas lelah setelah mengikuti
serangkaian materi. Acara api unggun dapat dijadikan arena memperluas
persaudaraan dan memperkokoh tali persahabatan sehingga mengeliminasi prilaku
kekerasan seperti perkelahian dan tawuran antar siswa. Esensi acara api unggun
dalam kegiatan kepramukaan bukanlah sekedar acara bergadang atau hura-hura
layaknya acara camping ala remaja sekarang. Di bawah kendali instruktur atau
pembina pramuka, acara api unggun senantiasa mengedepankan norma dan etika.
Beberapa pedoman pelaksanaan api unggun mengharuskan semua yang terlibat,
yaitu: menjaga ketertiban dan sopan santun, menghindari ucapan kotor dan
negatif, tidak merusak lingkungan, jangan lupa mematikan api dan membersihkan
sampah disekitar lokasi. Banyak manfaat yang didapat, bukan saja acara
nostalgia dan romantisme terhadap kegiatan serupa tempo dulu, namun diharapkan
melahirkan daya juang lebih fresh seperti ditunjukan oleh nyala lidah api
unggun berkobar-kobar. Begitu sarat makna dan pesan moral terkandung dalam
acara api unggun tersebut. Begitupun keheningan malam, beningnya bulir-bulir
embun dan kerlap kerlip bintang dilangit, terbungkus dalam kehangatan api
unggun dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus penyegaran dari monotonitas,
kesumpekan dan kepenatan sehari-hari.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pembahasan
diatas maka dapat disimpulkan sebagia berikut.
1)
Upacara adalah serangkaian perbuatan
yang ditata dalam suatu ketentuan peraturan yang wajib dilaksanakan dengan
khidmat, sehingga merupakan kegiatan yang teratur dam tertib, untuk membentuk
suatu tradisi dan budi pekerti yang baik, serta mampu mencapai tujuan dan
sasaran upacara dalam Gerakan Pramuka tersebut.
2)
Kegiatan Upacara didalam Gerakan
Pramuka diantaranya yaitu
a.
Upacara Pelantikan
b.
Upacara kenaikan tingkat
c.
Upacara pindah golongan
Secara umum upacara dalam gerakan
pramuka dilakukan sebagai berikut.
a)
Adanya bendera merah putih
b)
Wawancara antara pembina dengan yang
akan dilantik
c)
Pengucapan satya pramuka secara
sukarela oleh calon
d)
Tata urutan acara yang rapi serta
formasi barisan sesuai dengan golongannya
e)
Dilaksanakan dalam suasana hikmat
f)
Adanya doa untuk memberikan
kekuataan batin kepada yang dilantik.
3)
Makna pertemuan dalam Gerakan
Pramuka yaitu adalah untuk meningkatkan kemantapan mental, fisik, pengetahuan,
ketrampilan Pramuka Penegak dan Pramuka Pendega, dan menumbuhkan aspirasi
pemuda pemudi Indonesia pada umumnya minat, kebutuhan serta kepentingan dan kebutuhan
masyarakat setempat. Makna Pelantikan dalam Gerakan Pramuka yaitu adalah
sebagai media untuk mendidik ketahanan spiritual, fisik, intelektual,
emosional, dan sosial kepada yang bersangkutan. Makna Api unggun dalam Gerakan
Pramuka yaitu adalah untuk menumbuhkan rasa atraktif, kreatif pada anggota
pramuka, menumbuhkan tali persaudaraan dan persatuan serta menghilangkan
kepenatan dalam rutinitas sehari-hari.
3.2 Pesan
Adapun pesan yang dapat disampaikan dalam makalah ini,
sebagai berikut.
1.
Kepada Mahasiswa
Pengetahuan tentang tata upacara dalam gerakan pramuka
dan makna dari pertemuan, pelantikan, dan api unggun sangat penting untuk
diketahui.
2.
Kepada Masyarakat
Hendaknya masyarakat juga memahami bagaimana tata
upacara dalam gerakan pramuka dan makna dari pertemuan, pelantikan, dan api
unggun.
DAFTAR
PUSTAKA
http://diwanpramuka.blogspot.com/2012/04/upacara
pramuka-html.25
September 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar